Robot semakin cerdas
AI kini membuat robot bisa melihat, memahami bahasa sehari-hari, dan mengerjakan tugas yang tidak diprogram langkah demi langkah.






Apa sebenarnya robot itu, dan peran nyatanya dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dari membersihkan sungai sampai memeriksa jaringan listrik.
Selamat pagi semuanya. Yang saya hormati Bapak Dekan Fakultas Teknik UNS, rekan-rekan dari EZRA Robotics, bapak dan ibu dosen, panitia, dan teman-teman mahasiswa yang sudah hadir pagi ini. Terima kasih atas kesempatannya.
Judul sesi kita hari ini adalah Intelligent Robot for a Sustainable World, robot cerdas untuk dunia yang berkelanjutan.
Alurnya begini. Pertama kita lihat masalahnya. Lalu kita samakan dulu pemahaman: robot itu sebenarnya apa, karena robot jauh lebih luas dari sekadar mesin canggih atau robot humanoid. Setelah itu kita bahas satu per satu tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, dan di mana saja robot sudah benar-benar berperan. Termasuk apa yang sudah kami kerjakan di EZRA Robotics di Indonesia.
Kotak-kotak warna di sebelah kanan itu adalah SDGs yang nanti kita bahas. Tapi sebelum itu, saya ajak teman-teman menonton satu video dulu.
AI kini membuat robot bisa melihat, memahami bahasa sehari-hari, dan mengerjakan tugas yang tidak diprogram langkah demi langkah.
Plastik di sungai, infrastruktur yang rentan, dan pekerjaan berbahaya menekan cara kita hidup.
Sesi ini ada di titik pertemuan keduanya: bagaimana robot cerdas bisa membantu membangun dunia yang berkelanjutan.
Saya mulai dengan dua cerita besar yang sedang terjadi di dekade ini.
[Putar video sekitar 45 detik, lalu pause.]
Cerita pertama: robot sedang menjadi cerdas. Yang barusan kita lihat adalah Gemini Robotics dari Google DeepMind. Robotnya diberi instruksi dengan bahasa biasa, lalu ia memahami perintahnya, melihat sekitarnya, dan mengerjakannya sendiri. Tidak ada yang memprogram gerakan itu satu per satu.
Cerita kedua: dunia kita harus menjadi lebih berkelanjutan. Sungai kita penuh plastik, infrastruktur kita perlu dirawat, dan masih banyak orang bekerja di tempat yang berbahaya.
Biasanya dua cerita ini dibahas terpisah. Orang AI bicara soal AI, orang lingkungan bicara soal lingkungan. Sesi hari ini ada di titik pertemuannya: bagaimana robot yang cerdas bisa membantu membangun dunia yang berkelanjutan.
[Opsional, kalau ada poll:]
Silakan isi poll dari link yang dibagikan panitia: menurut kalian, robot seperti apa yang paling dibutuhkan Indonesia? Hasilnya kita lihat di akhir sesi.
Keberlanjutan berarti memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengorbankan kebutuhan masa depan. Inilah titik-titik di mana keseimbangan itu mulai tertekan, dan di mana robot bisa membantu.
Sebagian besar lewat sungai lebih dulu.
Robot bisa menangkapnya di sungai.Banyak di inspeksi, tambang, energi, dan konstruksi.
Robot bisa masuk lebih dulu.Makin banyak orang butuh pengobatan dan rehabilitasi.
Robot bisa membantu dokter dan terapis.Robot bukan tujuannya. Robot adalah salah satu jawabannya.
Kalau kita bicara dunia yang berkelanjutan, artinya memenuhi kebutuhan hari ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi berikutnya. Mari kita lihat di mana keseimbangan itu sudah mulai tertekan, dan perhatikan baris paling bawah di setiap kolom: di situ robot bisa ikut membantu.
Pertama, lingkungan laut. Diperkirakan sekitar sebelas juta ton plastik masuk ke laut setiap tahun, dan sebagian besar perjalanannya lewat sungai dulu. Kalau kita bisa menangkapnya di sungai, masalahnya jauh lebih kecil. Ini tugas yang cocok untuk robot.
Kedua, keselamatan kerja. ILO memperkirakan sekitar tiga juta orang meninggal setiap tahun karena pekerjaannya, banyak di inspeksi, tambang, energi, dan konstruksi. Di tempat seperti itu, robot bisa masuk duluan.
Ketiga, kesehatan. Sekitar dua belas persen penduduk Indonesia sudah lansia, artinya kebutuhan pengobatan dan rehabilitasi akan terus naik. Di sini robot bisa membantu dokter dan terapis.
Perhatikan label kecil di atas angka. Itu nomor SDG-nya. Nanti kita bahas satu per satu.
Kalimat yang mau saya tekankan: robot bukan tujuannya. Robot adalah salah satu jawabannya. Kita mulai dari masalah, baru cari teknologinya.
[Catatan: cek ulang angka ke rilis BPS dan ILO terbaru sebelum tampil.]
Robot tidak ditentukan oleh bentuk atau kecanggihannya. Robot adalah mesin yang merasakan lingkungannya, memutuskan apa yang harus dilakukan, lalu bertindak di dunia fisik, sepenuhnya sendiri atau sebagian.
Menjalankan program yang sama setiap kali. Tidak memperhatikan apa pun di sekitarnya.
RobotMemetakan ruangan, melihat halangan, dan mengubah jalurnya ketika kursi dipindah.
RobotMembaca sinyal dari tubuh pemakainya lalu ikut menggerakkan kaki. Robot yang dipakai di badan.
RobotMendeteksi sampah yang datang dan menjalankan conveyor sendiri. Tanpa tangan atau wajah, tapi tetap robot.
Sebelum masuk ke SDGs, kita samakan dulu pemahaman: robot itu sebenarnya apa?
Banyak orang kalau dengar kata robot langsung membayangkan humanoid, robot seperti manusia di film. Atau minimal mesin yang sangat canggih dan mahal. Padahal definisinya tidak ditentukan oleh bentuk atau kecanggihan.
Robot adalah mesin yang bisa merasakan lingkungannya, memutuskan apa yang harus dilakukan, lalu bertindak di dunia fisik, sepenuhnya sendiri atau sebagian.
Coba kita uji dengan contoh. Mesin cuci: ia menjalankan program yang sama setiap kali dan tidak memperhatikan apa pun di sekitarnya. Itu otomasi, belum robot.
Robot vacuum: ia memetakan ruangan, melihat halangan, dan mengubah jalurnya kalau ada kursi yang dipindah. Itu robot.
Exoskeleton: alat yang dipakai di badan, membaca sinyal dari tubuh pemakainya, lalu ikut menggerakkan kaki. Itu juga robot, robot yang kita pakai. Karena itulah robot juga bisa masuk ke dunia kesehatan.
Dan sistem pembersih sungai: tidak punya tangan, tidak punya wajah, tapi ia mendeteksi sampah yang datang dan menjalankan conveyor sendiri. Itu juga robot.
Jadi dengan definisi ini, peran robot jauh lebih luas dari yang biasanya kita bayangkan.
Bentuk mengikuti pekerjaannya. Dengan melihat robot seluas ini, jelas kenapa robot bisa berkontribusi ke banyak tujuan keberlanjutan.

Memilah sampah daur ulang, mengelas, dan mengemas.

Mengangkut logistik di rumah sakit dan gudang.

Inspeksi rutin di tangga dan medan tidak rata.

Pemetaan, menyemprot tanaman, dan menanam bibit.

Bekerja di terumbu karang, sungai, dan laut lepas.

Exoskeleton yang membantu pasien berjalan lagi.

Gerakan kecil dan presisi untuk dokter bedah.

Robot serbaguna untuk ruang yang dirancang bagi manusia.
Dengan definisi tadi, robot ternyata punya banyak sekali bentuk. Bentuknya mengikuti pekerjaannya.
Ada lengan robot, yang biasa di pabrik untuk mengelas dan mengemas, tapi juga dipakai untuk memilah sampah daur ulang.
Ada robot beroda, untuk memindahkan barang di gudang dan rumah sakit, atau membersihkan lantai.
Ada robot berkaki, yang bisa naik tangga dan berjalan di medan tidak rata. Ini banyak dipakai untuk inspeksi.
Ada drone, untuk pemetaan, menyemprot tanaman, menanam bibit, dan memeriksa tower.
Ada robot air, dari kapal tanpa awak, pembersih sungai, sampai robot bawah laut di terumbu karang.
Ada robot yang dipakai di badan, yaitu exoskeleton, untuk rehabilitasi atau melindungi pekerja.
Ada robot medis yang membantu dokter bedah dengan gerakan yang sangat kecil dan presisi.
Dan ada humanoid, robot serbaguna yang dirancang untuk bekerja di ruang yang dibuat untuk manusia.
Begitu kita melihat robot seluas ini, jadi masuk akal kenapa robot bisa berkontribusi ke banyak tujuan pembangunan berkelanjutan sekaligus.
Robot inspeksi berkakiBongkar robot inspeksi berkaki modern, dan kita menemukan empat kelompok komponen yang bekerja bersama. Masing-masing adalah bidang ilmu tersendiri.
Kamera depth dan termal, LiDAR 3D, IMU, encoder sendi, kadang sensor gas.
Komputer GPU di dalam robot untuk AI dan pemetaan, ditambah kontroler real-time untuk keseimbangan.
Motor listrik dan gearbox di setiap sendi, kuat tapi cukup cepat untuk menahan saat terpeleset.
Baterai, elektronika daya, serta Wi-Fi atau 5G untuk melapor dan menerima tugas.
Supaya lebih konkret, coba kita bongkar satu robot berkaki untuk inspeksi, seperti yang di gambar. Di dalamnya ada empat kelompok komponen.
Pertama sensor: kamera depth dan termal, LiDAR tiga dimensi, IMU untuk keseimbangan, encoder di setiap sendi, kadang sensor gas. Ini indra robot.
Kedua komputer: komputer kecil dengan GPU untuk AI dan pemetaan, ditambah kontroler real-time yang khusus menjaga keseimbangan.
Ketiga aktuator: motor listrik dan gearbox di setiap sendi, cukup kuat untuk mengangkat badan, tapi cukup cepat untuk menahan saat terpeleset.
Keempat daya dan jaringan: baterai, elektronika daya, serta Wi-Fi atau 5G untuk melapor dan menerima tugas.
Artinya satu robot adalah pertemuan banyak bidang: elektro, mesin, informatika, dan AI. Apa pun jurusan teman-teman di Fakultas Teknik ini, ada tempatnya di robotika.
Apa pun bentuknya, setiap robot cerdas menjalankan siklus yang sama berulang-ulang, berkali-kali per detik. Makin cepat dan akurat siklusnya, makin cerdas perilaku robotnya.
Kamera, LiDAR, IMU, dan sensor lain mengubah dunia fisik menjadi data yang bisa dipakai robot.
Seperti mata, telinga, dan rasa keseimbangan kita.
AI dan algoritma perencanaan memahami situasi lalu memilih aksi berikutnya: berhenti, belok, melangkah, atau menggenggam.
Seperti otak kita.
Motor dan kontroler mengubah keputusan itu menjadi gerakan nyata, lalu siklusnya dimulai lagi.
Seperti otot kita.
Mesin biasa mengulang gerakan yang sama. Robot cerdas beradaptasi ketika dunianya berubah.
Apa pun bentuknya, semua robot cerdas menjalankan satu siklus yang sama: sense, think, act. Merasakan, berpikir, lalu bertindak.
Sense. Robot punya sensor: kamera, LiDAR yang memetakan sekitar dengan laser, dan IMU yang merasakan kemiringan serta percepatan. Sensor-sensor ini mengubah dunia nyata menjadi data. Ini mata, telinga, dan rasa keseimbangannya.
Think. Data itu diolah oleh komputer di dalam robot. Di sinilah AI bekerja: ini objek apa, ada halangan atau tidak, saya harus berhenti, belok, atau melangkah? Ini otaknya.
Act. Keputusan tadi dijalankan oleh motor dan sistem kontrol, sehingga menjadi gerakan nyata. Ini ototnya.
Lalu siklusnya berulang terus-menerus, puluhan sampai ratusan kali per detik. Contohnya robot berkaki. Kalau didorong, ia tidak langsung jatuh, karena siklus ini berjalan sangat cepat dan ia langsung menyesuaikan langkahnya.
Jadi mesin biasa mengulang gerakan yang sama. Robot cerdas beradaptasi ketika dunianya berubah. Dan dunia nyata, entah itu sungai, gardu listrik, atau lahan pertanian, selalu berubah.
Alih-alih menulis setiap aturan secara manual, engineer membiarkan robot berlatih dan memberinya reward saat berhasil.
Robot modern makin banyak dilatih, bukan diprogram baris per baris.
Dengan reinforcement learning, robot mencoba banyak gerakan dan mendapat reward untuk gerakan yang baik, misalnya maju tanpa jatuh.
Robot bisa berlatih jutaan kali di dunia virtual, di mana jatuh itu gratis, sebelum kemampuannya dipindahkan ke robot asli.
Model AI terbaru menghubungkan apa yang dilihat robot dengan kata-kata, sehingga robot bisa mengikuti instruksi yang belum pernah ia lihat.
Pertanyaan berikutnya: bagaimana robot bisa jadi pintar? Jawabannya, makin banyak robot sekarang dilatih, bukan diprogram baris per baris.
[Putar video sekitar 30 detik.]
Video ini dari peneliti Google dan Berkeley. Robotnya belajar berjalan sendiri. Awalnya canggung dan jatuh, lalu makin lama makin stabil. Caranya dengan reinforcement learning: robot mencoba banyak gerakan, dan setiap kali gerakannya bagus ia mendapat reward. Lama-lama ia menemukan cara berjalan yang baik.
Kalau belajar langsung di dunia nyata, robotnya bisa rusak. Jadi sekarang kebanyakan latihan dilakukan di simulasi. Robot berlatih jutaan kali di dunia virtual, di mana jatuh itu gratis, lalu kemampuannya dipindahkan ke robot aslinya.
Dan model AI terbaru bisa menghubungkan apa yang dilihat robot dengan kata-kata, seperti robot di video pembuka tadi.
Kemampuan belajar inilah yang membuat robot bisa keluar dari pabrik. Coba kita lihat perjalanannya.

Lengan robot industri pertama bekerja di pabrik General Motors, dipagari dari manusia.

Robot pembersih kecil membawa robotika ke rumah-rumah biasa.

Robot kolaboratif mulai bekerja tepat di samping pekerja manusia, tanpa pagar.

Robot berkaki mulai dijual untuk industri, mampu naik tangga dan berjalan di medan kasar.

Robot mulai memahami bahasa, melihat dunia, dan beradaptasi dengan tugas yang tidak diprogramkan.
Kemampuan belajar dan beradaptasi inilah yang membuat robot bisa keluar dari pabrik. Coba kita lihat perjalanannya.
Tahun 1961, Unimate. Lengan robot industri pertama, dipakai di pabrik General Motors. Kuat dan presisi, tapi harus dipagari karena ia tidak tahu kalau ada manusia di dekatnya.
Tahun 2002, Roomba, robot penyedot debu. Kelihatannya sederhana, tapi ini momen ketika robot masuk ke rumah orang biasa.
Tahun 2008 muncul cobot, collaborative robot. Robot yang aman bekerja di samping manusia, tanpa pagar.
Tahun 2019, robot berkaki Spot mulai dijual untuk industri. Robot yang bisa naik tangga dan berjalan di medan yang tidak rata.
Dan sejak 2023 kita masuk era embodied AI: robot yang bisa memahami bahasa, melihat, dan menyesuaikan diri dengan tugas yang tidak diprogram satu per satu.
Kalau kita baca dari kiri ke kanan, polanya jelas. Robot bergerak dari dalam pabrik ke dunia nyata. Dan begitu robot ada di dunia nyata, ia bisa ikut menyelesaikan masalah nyata. Dan di sinilah robot mulai bertemu dengan SDGs.
17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah daftar pekerjaan rumah bersama dunia sampai 2030. Robot sudah punya peran nyata di 12 di antaranya. Untuk lima sisanya, jujur saja, robot bukan alat utamanya, jadi tidak kita paksakan. Tujuan yang mirip dibahas bersama.
Sekarang inti sesi kita. SDGs atau Sustainable Development Goals adalah tujuh belas tujuan pembangunan berkelanjutan yang disepakati negara-negara di dunia sampai tahun 2030. Anggap saja ini daftar pekerjaan rumah bersama umat manusia.
Pertanyaannya: di tujuan yang mana robot benar-benar berperan?
Yang berwarna di layar adalah dua belas tujuan di mana robot sudah punya peran nyata, sudah dipakai, bukan sekadar ide. Yang abu-abu adalah lima tujuan di mana jujur saja, robot bukan alat utamanya. Misalnya kesetaraan gender, atau perdamaian dan keadilan. Itu urusan kebijakan dan manusia, bukan robot. Jadi tidak akan kita paksakan.
Sekarang kita bahas dua belas tujuan ini. Beberapa yang ceritanya mirip saya gabung dalam satu slide supaya lebih mudah diikuti. Untuk setiap tujuan, saya jelaskan peran robotnya dan contoh nyatanya, termasuk beberapa yang kami kerjakan sendiri di EZRA Robotics.
[Catatan tempo: video cukup diputar 20 sampai 40 detik.]
Mencabut gulma dengan tangan itu lambat, menyemprot semua lahan itu boros bahan kimia. Robot mengerjakan keduanya dengan presisi.
Peran robot: Menghasilkan lebih banyak pangan dengan lebih sedikit bahan kimia dan kerja fisik yang berat.
Drone memetakan lahan lalu menyemprot pupuk atau pestisida hanya di titik yang perlu, bukan seluruh lahan.
Robot dan drone mendeteksi hama, penyakit, dan bagian lahan yang kering lebih awal, sebelum satu musim panen hilang.
SDG nomor dua, tanpa kelaparan. Peran robot di sini: menghasilkan lebih banyak pangan dengan lebih sedikit bahan kimia dan tenaga kasar.
[Putar video LaserWeeder sekitar 30 detik.]
Ini LaserWeeder dari Carbon Robotics. Mesinnya ditarik traktor, di bawahnya ada kamera dan AI yang membedakan tanaman dan gulma. Kalau gulma, laser menembak titik tumbuhnya. Petani bisa mengurangi herbisida, dan pekerjaan mencabut gulma dengan tangan yang melelahkan bisa dikerjakan mesin.
Contoh kedua, drone penyemprot. Drone memetakan lahan, lalu menyemprot pupuk atau pestisida hanya di titik yang perlu, bukan seluruh lahan. Lebih hemat dan lebih ramah lingkungan.
Ketiga, pemantauan lahan. Drone dan robot bisa mendeteksi hama, penyakit, atau bagian lahan yang kering lebih awal, sebelum satu musim panen hilang.
Untuk negara agraris seperti Indonesia, ini peluang yang sangat besar.
Robot tidak pernah bekerja sendiri. Dokter atau terapis tetap memegang kendali.
Peran robot: Memperluas kemampuan dokter dan terapis: bedah yang lebih presisi dan rehabilitasi yang lebih cepat.
SDG nomor tiga, kehidupan sehat dan sejahtera. Ini contoh bagus bahwa robot bukan hanya untuk pabrik. Perannya: memperluas kemampuan dokter dan terapis.
[Putar video da Vinci sekitar 30 detik.]
Ini sistem bedah da Vinci. Dokter mengendalikan lengan robot lewat beberapa sayatan kecil. Di video ini, robotnya menjahit kulit buah anggur, untuk menunjukkan betapa halus gerakannya. Sayatan yang lebih kecil biasanya berarti rasa sakit lebih sedikit dan pemulihan lebih cepat.
[Klik Cyberdyne HAL kalau mau memutar videonya.]
Kedua, exoskeleton untuk rehabilitasi, seperti yang kita bahas di definisi robot tadi. HAL membaca sinyal saraf pasien dan membantu kakinya bergerak, sehingga pasien stroke atau cedera tulang belakang bisa belajar berjalan lagi.
[Klik Hospital robots kalau mau memutar videonya.]
Ketiga, robot di rumah sakit seperti TUG, yang mengantar obat, makanan, dan logistik lewat lorong rumah sakit secara otomatis. Tenaga kesehatan jadi punya lebih banyak waktu untuk pasien.
Di semua contoh ini, robot tidak bekerja sendiri. Dokter atau terapis tetap memegang kendali.
Masa depan yang berkelanjutan butuh orang-orang yang bisa membuat dan merawat teknologinya.
Peran robot: Membuat sains dan teknik jadi nyata: siswa belajar coding, matematika, dan fisika dengan membuat sesuatu yang bergerak.
Kit robot sederhana membuat siswa melihat kode berubah jadi gerakan, sehingga matematika dan fisika jauh lebih mudah dipahami.
Robot berkaki dan drone di lab kampus membuat mahasiswa bisa bekerja dengan platform yang sama dengan industri.
SDG nomor empat, pendidikan berkualitas. Peran robot di sini sedikit berbeda: robot sebagai alat belajar. Siswa dan mahasiswa belajar coding, matematika, dan fisika dengan membuat sesuatu yang benar-benar bergerak.
[Putar video KRI sekitar 30 detik.]
Ini Kontes Robot Indonesia, kompetisi tahunan tingkat nasional untuk mahasiswa. Mungkin sebagian teman-teman di sini sudah pernah ikut. Di sana tim mahasiswa merancang, membuat, dan memprogram robot untuk menyelesaikan tantangan tertentu. Mereka belajar hal-hal yang tidak bisa didapat hanya dari buku: kerja tim, tenggat waktu, dan robot yang tidak mau jalan sehari sebelum lomba.
Kedua, robotika di sekolah. Kit robot sederhana membuat siswa bisa melihat kode yang mereka tulis berubah menjadi gerakan. Matematika dan fisika jadi jauh lebih mudah dipahami.
Ketiga, robot sungguhan di kampus. Ketika mahasiswa bisa bekerja dengan robot berkaki atau drone yang sama dengan yang dipakai industri, jarak antara kampus dan dunia kerja jadi jauh lebih dekat.
Kenapa pendidikan masuk ke sustainability? Karena masa depan yang berkelanjutan butuh orang-orang yang bisa membuat dan merawat teknologinya.
Air yang hilang lewat kebocoran dan plastik yang berakhir di TPA sama-sama pemborosan yang bisa dicegah.
Peran robot: Menemukan kebocoran di dalam pipa tanpa membongkar jalan, dan menyelamatkan lebih banyak material dari sampah.
Dua SDG ini saya gabung karena intinya sama: mencegah sumber daya terbuang. SDG enam soal air bersih, SDG dua belas soal konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, termasuk sampah.
[Putar video MIT sekitar 30 detik.]
Masalah air sering tidak kelihatan karena ada di bawah tanah. Banyak air bersih yang sudah diolah dan dipompa justru hilang lewat pipa bocor. Robot kecil dari MIT ini masuk ke dalam pipa yang sedang dipakai, merasakan perubahan tekanan di sekitar kebocoran, dan menemukan letaknya tanpa harus membongkar jalan.
[Klik Solinas kalau mau memutar videonya.]
Di saluran pembuangan, robot beroda dengan kamera mencari retakan dan sumbatan sebelum meluap.
[Klik AMP Robotics kalau mau memutar videonya.]
Lalu di sisi sampah, lengan robot dengan AI di fasilitas daur ulang memilih plastik yang masih bisa didaur ulang dari conveyor yang bergerak cepat. Material daur ulang hanya bernilai kalau terpilah dengan benar, dan pekerjaan yang kotor serta monoton ini sangat cocok untuk robot.
Air yang hilang lewat kebocoran dan plastik yang berakhir di TPA sama-sama pemborosan yang bisa dicegah.
Energi bersih hanya bermanfaat kalau panelnya tetap bersih dan jaringannya tetap sehat.
Peran robot: Menjaga pembangkit energi bersih tetap bekerja maksimal, dan memeriksa jaringan listrik yang menyalurkannya.
SDG nomor tujuh, energi bersih dan terjangkau. Peran robot: menjaga pembangkit energi bersih tetap bekerja maksimal, dan memeriksa jaringan listrik yang menyalurkannya.
[Putar video Ecoppia sekitar 30 detik.]
Ini robot pembersih panel surya. Debu bisa menurunkan produksi listrik panel surya. Robot ini membersihkan deretan panel setiap malam, tanpa air sama sekali. Di daerah kering, ini menghemat air dalam jumlah besar.
[Klik Substation inspection untuk memutar video EZRA.]
Yang kedua, ini proyek kami di EZRA Robotics: robot inspeksi di gardu listrik. Robot berkaki berjalan mengikuti rute inspeksi sesuai jadwal, mencari peralatan yang terlalu panas dan membaca gauge serta indikator. Kalau ada yang tidak normal, operator mendapat peringatan, jadi masalah bisa diperbaiki sebelum jadi pemadaman, dan teknisi tidak perlu masuk area tegangan tinggi tanpa alasan.
Di luar negeri, hal serupa dilakukan oleh Spot di National Grid, Inggris.
Energi bersih hanya bermanfaat kalau panelnya bersih dan jaringannya sehat.
[Sesuaikan: lokasi atau mitra gardu yang boleh disebut dan hasil yang sudah dicapai.]
Tujuannya bukan mengurangi pekerja, tapi mengurangi pekerja yang berada dalam bahaya, dan infrastruktur yang lebih awet.
Peran robot: Memindahkan manusia dari pekerjaan inspeksi yang berbahaya, dan memeriksa infrastruktur penting lebih sering serta lebih aman.
SDG delapan dan sembilan saya gabung karena ceritanya menyambung: pekerjaan yang layak dan aman, serta infrastruktur yang terawat.
[Putar video ANYmal sekitar 30 detik.]
Ini ANYmal dari ANYbotics di anjungan lepas pantai Laut Utara. Untuk mengirim teknisi ke sana dibutuhkan helikopter, biaya besar, dan risiko keselamatan. Robot bisa berkeliling memeriksa peralatan secara rutin. Hal yang sama dilakukan X30 dari Deep Robotics di pabrik baja yang panas dan berdebu.
[Klik ITS dan Indosat untuk memutar video.]
Yang kedua proyek robot AI yang dikembangkan bersama ITS dan Indosat, dengan dukungan Nokia dan NVIDIA. Robot ini menerima perintah suara dan bisa dipandu dari jarak sangat jauh lewat 5G. Pada demo Februari 2026, robotnya ada di Surabaya sementara penggunanya di Barcelona. Robot ini juga sudah diuji di tower pemancar Indosat. Bayangkan satu operator memeriksa tower di banyak pulau tanpa harus berangkat ke sana.
[Klik Railway inspection kalau mau memutar videonya.]
Ketiga, ANYmal memeriksa bagian bawah kereta di pusat servis, pekerjaan sempit yang berat untuk manusia.
Tujuannya bukan mengurangi pekerja, tapi mengurangi pekerja yang berada dalam bahaya. Pekerjaannya bergeser menjadi merencanakan misi, membaca data, dan merawat robot.
[Sesuaikan: jelaskan peran EZRA Robotics di proyek ITS dan Indosat.]
Indonesia berada di Cincin Api. Penanganan bencana yang lebih cepat dan aman sangat penting di sini.
Peran robot: Membantu kota menangani bencana dan menjaga ruang publik besar tetap aman dan bersih.
Drone memetakan kerusakan setelah gempa dan banjir dalam hitungan jam, supaya bantuan tepat sasaran.
SDG nomor sebelas, kota dan permukiman berkelanjutan. Termasuk di dalamnya ketahanan terhadap bencana, yang sangat relevan untuk Indonesia.
[Putar video SAR sekitar 30 detik.]
Ini ANYmal di lokasi latihan bencana, berjalan di atas puing. Saat gedung runtuh, robot bisa masuk duluan untuk mencari korban dan menilai kondisi, sehingga tim penyelamat tidak harus mengambil risiko pertama.
[Klik Patrol robots untuk memutar video EZRA.]
Kedua, proyek kami di EZRA Robotics: robot patroli otonom untuk mal. Mal itu lingkungan yang sangat dinamis, booth berganti dan orang terus berpindah. Robot memetakan mal dengan LiDAR tiga dimensi, mengulang rute patroli yang sudah diajarkan, dan di setiap titik berhenti AI memeriksa apakah ada sampah, tumpahan, atau lantai rusak. Temuannya langsung dikirim ke petugas.
Ketiga, drone untuk memetakan kerusakan setelah gempa atau banjir dalam hitungan jam, supaya bantuan datang ke tempat yang tepat.
[Sesuaikan: nama mal mitra hanya jika diizinkan, dan fitur yang sudah berjalan.]
Menangkap sampah di sungai jauh lebih mudah daripada mengejarnya di tengah laut.
Peran robot: Menahan plastik sebelum ke laut, memulihkan terumbu karang dan hutan, dan mengumpulkan data iklim.
Tiga SDG terakhir saya gabung karena semuanya tentang lingkungan alam: iklim, laut, dan darat.
[Putar video Interceptor sekitar 45 detik.]
Ini Interceptor dari The Ocean Cleanup. Di awal tadi kita lihat sebagian besar plastik sampai ke laut lewat sungai. Ide mereka sederhana: tangkap di sungai. Alat bertenaga surya ini mengarahkan sampah yang terbawa arus, mengangkatnya dengan conveyor, lalu mengumpulkannya untuk dipilah di darat. Unit sungai pertama mereka justru dipasang di Indonesia, di Kali Cengkareng, Jakarta, lalu ada lagi di Sungai Cisadane.
[Klik RangerBot kalau mau memutar videonya.]
Di bawah laut, RangerBot dari QUT, Australia, memakai kamera dan AI untuk menemukan bintang laut mahkota duri yang memakan karang di Great Barrier Reef. Indonesia punya salah satu terumbu karang terluas di dunia, jadi ini sangat relevan.
[Klik Seed-planting drones kalau mau memutar videonya.]
Di darat, drone menjatuhkan kapsul bibit di lahan bekas kebakaran atau daerah yang sulit dijangkau, jauh lebih cepat daripada menanam satu per satu.
Dan untuk iklim, kapal layar tanpa awak seperti Saildrone berada di laut selama berbulan-bulan untuk mengumpulkan data, bahkan dari dalam badai.
Benang merahnya: robot pergi ke tempat yang terlalu luas, terlalu jauh, atau terlalu berbahaya untuk manusia.
EZRA Robotics mengubah masalah nyata di lapangan di Indonesia menjadi solusi robot yang bekerja. Kami mulai dari kebutuhan lokasi, lalu memilih, mengintegrasikan, dan memprogram robot yang tepat.
Robot berkaki yang berkeliling inspeksi rutin di gardu listrik.
Robot berkaki empat dengan perintah suara yang dipandu dari jauh, diuji di tower telekomunikasi.
Pemetaan, rute patroli, dan pemeriksaan AI untuk sampah dan kerusakan di gedung publik.
Platform robot yang kami integrasikan: DEEP Robotics, Genisom, Unitree, ditambah software kami sendiri untuk pemetaan, navigasi, dan persepsi AI.
Tadi di beberapa SDG saya sudah menyebut proyek EZRA Robotics. Di slide ini saya rangkum.
Prinsip kami sederhana, sama dengan pesan sesi ini: from needs to robotics solutions. Kami tidak mulai dari robotnya, tapi dari kebutuhan di lapangan. Baru setelah itu kami memilih platform robot yang tepat, mengintegrasikan sensornya, dan membuat software-nya.
Untuk SDG tujuh, robot inspeksi gardu listrik. Untuk SDG sembilan, robot AI lewat 5G bersama ITS dan Indosat. Dan untuk SDG sebelas, robot patroli otonom di mal.
Untuk platform, kami bekerja dengan robot dari Deep Robotics, Genisom, dan Unitree, lalu menambahkan software kami sendiri untuk pemetaan, navigasi otonom, dan persepsi berbasis AI, supaya robot benar-benar bisa bekerja di lokasi di Indonesia.
Intinya, semua yang tadi kita lihat dari luar negeri itu bukan sesuatu yang jauh. Sebagian sudah mulai dikerjakan di sini, oleh tim Indonesia.
[Sesuaikan detail perusahaan dan platform jika perlu.]
Pilih satu tujuan, temukan masalah di baliknya, lalu bangun robotnya.
Kalau dari satu jam ini teman-teman hanya ingat satu kalimat, saya harap kalimatnya ini:
Robot terbaik bukan yang paling canggih, tapi yang menyelesaikan masalah nyata.
[Jeda dua detik.]
Kita sudah melihat bahwa robot itu jauh lebih luas dari mesin canggih atau humanoid. Ada exoskeleton, drone, kapal tanpa awak, robot di dalam pipa. Dan robot sudah berperan di dua belas dari tujuh belas SDGs, dari pertanian, kesehatan, air bersih, energi, sampai laut dan hutan. Sebagian sudah dikerjakan di Indonesia, termasuk di gardu listrik, di mal, dan bersama ITS dan Indosat.
Jadi kalau teman-teman ingin membuat robot, caranya terbalik dari yang biasa: pilih satu tujuan, cari masalah nyata di baliknya, baru bangun robotnya.
[Kalau pakai poll: tampilkan hasilnya dan tanggapi dalam satu atau dua kalimat.]
Tanya jawab dan diskusi
Terima kasih banyak atas perhatiannya. Sekarang saya buka sesi tanya jawab. Silakan, siapa yang mau bertanya lebih dulu?
[Kalau sepi:]
Atau saya balik bertanya: dari dua belas SDG tadi, mana yang menurut kalian paling mendesak untuk Indonesia, dan robot seperti apa yang bisa membantu?
[Penutup setelah tanya jawab:]
Sekali lagi terima kasih untuk Fakultas Teknik UNS, EZRA Robotics, dan seluruh panitia. Semoga bermanfaat, dan sampai jumpa.